Laman

. . . . . . . . . . . . . . . . Image Hosted by ImageShack.us . . . . . . . . . . . . . . . .

Minggu, 29 Mei 2011

Trigger 1 : Genome Manusia dan Sintesa Protein

          Sel dari organisme hidup mempunyai fungsi kehidupan seperti reproduksi,tumbuh kembang, metabolisme, dan pertahanan terhadap pengaruh luar. Didalam sel terdapat sejumlah besar molekul yang disebut biomolekuler. Didalam sel terdapat inti sel yang mengandung kromosom yang dibentuk oleh rangkaian salah satu biomolekul yang disebut DNA. Didalam DNA lah terdapat kumpulan kodon yang menyusun kode genetik. Untuk sintesa protein diperlukan DNA dan berbagai jenis RNA.
          Struktur dasar dari DNA dan RNA adalah inti purin, pirimidin,fosfat,serta ribose,deoksi ribose yang dikelompokkan dalam struktur nukleotida,nukleosida, asam nucleat serta DNA dan RNA. Bagaimana anda memahami genome manusia dan fungsinya untuk sintesa berbagai jenis protein dan fungsi kehidupan. Katabolisme purin menghasilkan asam urat, yang dapat menimbulkan batu ginjal , penumpukan di sendi-sendi dan jaringan ikat yang disebut dengan penyakit Gout (penyakit pirei).

STEP 1 :
  1. Genome manusia : cetakan tubuh manusia
  2. Sintesa protein : pembentukan protein
  3. Biomolekuler : senyawa organik sederhana pembentuk organism dan bersifat khas sebagai produksi aktivitas biologis
  4. Metabolisme: proses kimia yang terjadi pada makhluk hidup atau sel
  5. Molekul : suatu ikatan atom ( paling sedikit 2 ) yang berikatan dengan kuat (kovalen)
  6. DNA : berfungsi untuk memindahkan informasi genetic
  7. Kodon : 3 basa N yang menentukan kode asam amino pada sintesis protein
  8. Purin : basa N yang terdapat adenine dan guanine
  9. Pirimidin : basa N yang terdapat citosin dan timin
  10. Fosfat : unsur dalam suatu batuan beku (apatit) atau sedimen dengan kandungan fosfor ekonomis
  11. Ribose : gula pentose pada RNA
  12. Deoksiribose : gula pentose pada DNA
  13. Nukleosida : senyawa ribose atau deoksiribosa dengan basa N: adenine, guanine, citosin, timin
  14. Nukleotida : molekul yang terdiri dari fosfat, pentose, basa purin / pirimidin
  15. RNA : rantai kode genetic yang berupa seingle helix dengan memakai gula ribose
  16. Asam nucleat : asam yang membawa informasi genetic
  17. Katabolisme : proses penguraian zat
  18. Penyakit gout :terjadi karena penumpukan asam urat dalam tubuh
  19. Reproduksi : proses biologi dimana individu baru terbentuk
  20. Asam urat : timbul karena katabolisme purin
STEP 2 :
  1. Apa saja biomolekul yang terdapat didalam sel?
  2. Apa fungsi dari proses metabolisme pada sel makhluk hidup?
  3. Apa perbedaan DNA dan RNA?
  4. Dalam bentuk apa kodon dalam DNA dan RNA?
  5. Apa fungsi inti sel yang mengandung kromosom didalam sel?
  6. Bagaimana proses sintesa protein didalam sel?
  7. Bagaimana metabolism purin dan pirimidin?
  8. Apa saja jenis-jenis RNA?
  9. Apa fungsi kodon?
  10. Apa fungsi sintesa protein?
  11. Apa hubungan sintesa protein dengan genome manusia?
  12. Mengapa katabolisme purin menghasilkan asam urat?
  13. Darimana terbentuknya batu ginjal?
STEP 3 :

  1. Biomolekul yang terdapat didalam sel :
    ·         Asam nucleat
    ·         DNA
    ·         RNA
  2. Fungsi dari proses metabolism pada sel adalah untuk menghasilkan energy yang digunakan untuk aktivitas makhluk hidup.
  3. DNA
    ·         rantai: double helix    
    ·         gula: deoksiribosa         
    ·         basa nitrogen : adenine,guanine,citosin,timin
    RNA
    ·         rantai: single helix
    ·         gula: ribose
    ·         basa nitrogen : adenine,guanine,citosin,urasil
  4. Dalam bentuk 3 basa nitrogen : ACC, CTA, dan lain-lain.
  5. Untuk sintesa protein
  6. Untuk mengatur seluruh aktivitas didalam sel
  7. LO
  8. LO
  9. Jenis - jenis RNA: RNAm, RNAr, RNAt
  10. LO
  11. Genome manusia terbentuk dari hasil proses sintesa protein
  12. LO
  13. Dari penumpukan garam mineral dalm tubuh yang berlebihan yang  tidak dapat diproses oleh ginjal.
STEP 4 :


STEP 5 :
  1. Definisi sel dan proses metabolisme sel
  2. Proses dan fungsi sintesa protein
  3. Metabolisme purin dan pirimidin
  4. Biomolekul yang terdapat didalam sel
  5. Proses katabolisme purin sehingga menghasilkan asam urat
  6. Perbedaan DNA dan RNA serta fungsi masing-masingnya
  7. Jenis-jenis RNA serta fungsinya masing-masing
  8. Definisi penyakit gout dan gejalanya
STEP 6 :

Sel merupakan unit kehidupan yang terkecil oleh karena itu sel dapat menjalankan aktivitas hidup diantaranya metabolisme

Metabolisme adalah proses kimia yang terjadi didalam tubuh makhluk hidup atau sel. Metabolisme disebut juga reaksi enzimatis, karena metabolisme terjadi selalu menggunakan katalisator enzim .

Proses metabolisme :
  • Anabolisme : proses molekul yang kompleks dengan menggunakan energi tinggi.
    Contohnya: fotosintesis
  • Katabolisme : proses penguraian zat untuk membebaskan energi kimia yang disimpan
Proses sintesa protein
  • Transkripsi : DNA membuka 2 rantai terpisah karena mRNA merantai tunggal maka salah satu rantai DNA di transkripsi (copy). Rantai yang ditranskripsi dinamakan DNA sense (template) dan kode genetik yang dikode disebut kodogen. Sedangkan yag tidak ditranskripsi disebut DNA anti sense (komplementer)
  • Translasi : mRNA yang sudah terbentuk keluar dari anak inti sel menuju RNA disana mRNA masuk ke rRNA diikuti tRNA. Ketika antikodon pada tRNA cocok dengan kodon mRNA kemudian rantai bergeser ke tengah.
    Kodon mRNA berikutnya dicocokan dengan tRNA kemudian asam amino pertama berikatan dengan asam amino kedua.
    tRNA pertama keluar dari rRNA. Proses ini berlangsung hingga ribosom,sub unit besar dan kecil terpisah, mRNA dan tRNA keluar di ribosom.
Fungsi sintesa protein :
  • Mentransfer senyawa dalam tubuh. Contoh: oksigen
  • Antibodi
  • Sebagai transkripsi gen
  • Reseptor
  • Sebagai neurotransmitter
  • Mengkatalis reaksi dalam tubuh
Purin dan Pirimidin
Inti Purin dan Pirimidin adalah inti dari senyawa komponen molekul nukleotida asam nukleat RNA dan DNA. Derivat Purin berupa senyawa: Adenin dan Guanin. sedangkan Derivat Pirimidin berupa senyawa: sitosin, urasil dan timin. Nukleosida diberi nama sesuai nama basa pembentuknya: adenin nukleisida (adenosin), guanin nukleisida (guanosin), urasil nukleosida (uridin), timin nukleisida (timidin), sitosin nukleisida (sitidin).

Metabolisme purin dan pirimidin
Purin : merupakan kompenen utama DNA, RNA koenzim (NAD,NADP,UDPG).
Contohnya : adenin, guanin, hipoxantin dan xantin.


Contoh pirimidin : citosin,urasil dan timin. Dimetabolisme menjadi asam urat. Menjadi CO2 dan NH3
Katabolisme pirimidin
  • Tahap awal : purin
  • CMP dan UMP : alanin + CO2 + NH3
  • dTMP : amino isobutirat + CO2 + NH3
  • hasil katabolisme bisa masuk ke TCA cycle
  • alanin – acetil Ko.A
  • aminoisobutirat – subsinil – Ko.A
  • Pada bakteri :  alanin – Ko.A
Hasil katabolisme purin: tubuh mengubah adenosin dan guanosin menjadi asam urat. Adenosin mula-mula diubah menjadi inosin oleh adenosin diaminase, selain pada primata tingkat tinggi, uratase merubah asam urat menjadi alatosin suatu produkyang larut dalam air pada mamalia.

Biomolekul yang terdapat dalam sel 
  • Protein.
    Berfungsi : sebagai enzim, alat transport, antibodi,hormon,pembentuk membran.
  • Karbohidrat
    Berfungsi : sebagai sumber energi, kompenen pembentuk membran dan dinding sel.
  • Lipid
    Fungsi : sebagai sumber energi, hormon dan pembentuk sel.
  • Asam nucleat
    Fungsi : faktor genetika, koenzim, pembawa energi, pengatur biosintesa protein.
      Proses katabolisme purin sehingga menghasilkan asam urat
      Adenosin → Inosin → Hiposantin → Santin → Asam Urat. Guanosin → Guanin → Santin → Asam Urat. Santin oksidase adalah enzim yang merubah santin → asam urat, enzim tsb banyak terdapat di: hati, ginjal, usus halus. Penyakit Gout (pirai) ditandai oleh tingginya asam urat dalam tubuh, sehingga terjadi penimbunan dibawah kulit berbentuk tophi

Perbedaan DNA dan RNA

http://biologigonz.blogspot.com/

DNA (deoksiribonucleic acid)
DNA mengandung gugus gula pentosa yang kehilangan satu atom oksigen (deoksiribosa), dengan basa : adenin, guanin, sitosin, timin.


RNA (ribonucleic acid)
RNA: mengandung gugus gula pentose  (ribosa), dengan basa: adenin, guanin, sitosin, urasil



Fungsi DNA:

Berfungsi pada replikasi DNA. Proses replikasi diperlukan ketika sel akan membelah diri,pada setiap sel kecuali sel gamet pembelahan diri harus disertai dengan replikasi DNA supaya semua sel turunanmempunyai informasi genetic yang sama.
-          Penyimpan informasi genetic
-          Perantara antara DNA dan protein dalam proses ekspresi genetik
Jenis RNA 
  1. mRNA (messenger RNA)
    membawa kode genetic dari inti ke ribosom (sehingga tempat sintesa protein).
    Kode terdiri dari 3 nukleotida yang disebut kodon.
  2. tRNA (transfer RNA)
    membawa bahan sintesa protein dari sitoplasma ke ribosom sesuai kode yang dibawa mRNA, kode dari rRNA disebut antikodon
  3. rRNA(ribosomal RNA)
    memasang kode mRNA dengan antikodon tRNA dan menggeser ranta-rantai supaya terbentuk polipeptida.

          Penyakit Gout adalah penyakit dimana terjadi penumpukan asam urat didalam tubuh secara berlebihan baik akibat produksi yang meningkat atau pembuangan ginjal yang menurun atau akibat asupan makanan kaya purin. Penyakit Gout merupakan satu bentuk arthritis yang disebabkan oleh hyperuricemia. Hyperuricemia ditakrifkan sebagai aras plasma urate (asid urik) melebihi 420 μmol/L (7.0 mg/dL); hyperuricemia adalah ciri-ciri utama gout dan pasti ada bagi penyakit gout walaupun aras asid urik yang tinggi tidak semestinya bererti seseorang itu akan mengidap penyakit gaut.
          GOUT memang sudah sebati dikaitkan sebagai penyakit lelaki dan ia jarang sekali berlaku kepada wanita. Jika ada pun, kemungkinan berlaku hanyalah selepas wanita mengalami menopaus. Apabila gout menyerang, kaki akan menjadi bengkak, panas dan amat sakit hingga ada sesetengah pesakit tidak boleh berjalan. Malah, kesakitan ini boleh berlanjutan beberapa hari dan hanya hilang dengan pengambilan ubat.
Gout mula dikenal pasti lebih 2,000 tahun dulu dan dikatakan antara penyakit tertua. Dulunya ia dipanggil penyakit orang kaya lantaran ia dikaitkan dengan pengambilan makanan dan minuman yang terlalu banyak khasiat.
          Ia adalah sebahagian daripada penyakit artritis yang dikelaskan sebagai penyakit metabolik akibat asid urik (iaitu bahan buangan yang terhasil daripada pemecahan purin (protein); berkumpul pada sendi dan tisu lembut di sekeliling sendi, terutama pada kaki dan menyebabkan rasa sakit.
Pemendapan asid urik ini lama kelamaan akan menghasilkan hablur garam dan hablur inilah yang mencetuskan rasa sakit sendi. Ia juga dipanggil masalah bengkak sendi yang daripada tapak ibu jari kaki, menular ke sendi lain pada kaki dan tangan.
          Menurut Perunding Pembedahan Ortopedik dan Trauma, Dr Robert Penafort, punca sebenar masalah metabolik masih belum diketahui bagaimanapun individu yang menghidap kencing manis, obesiti dan sakit buah pinggang juga berisiko mendapat gout.
Aras asid urik yang tinggi dikaitkan dengan usia, obesiti, type IV hyperlipidaemia, diabetes mellitus, ischaemic heart disease dan hypertension. Kadang kala, seseorang itu mewarisi kecacatan genetik dari keluarga mereka.

Penyebab
Dalam keadaan normal, beberapa asam urat (yang merupakan hasil pemecahan sel) ditemukan dalam darah karena tubuh terus menerus memecahkan sel dan membentuk sel yang baru dan karena makanan yang dikonsumsi mengandung cikal bakal asam urat. Kadar asam urat menjadi sangat tinggi jika ginjal tidak dapat membuangnya melalui air kemih.
Tubuh juga bisa menghasilkan sejumlah besar asam urat karena adanya kelainan enzim yang sifatnya diturunkan atau karena suatu penyakit (misalnya kanker darah), dimana sel-sel berlipatganda dan dihancurkan dalam waktu yang singkat.
Beberapa jenis penyakit ginjal dan obat-obatan tertentu memengaruhi kemampuan ginjal untuk membuang asam urat.
Gejala penyakit gout :

  • Serangan berulang dengan arthritis (peradangan sendi) yang akut
  • Kadang disertai pembentukan Kristal Na urat besar yang dinamakan tophlus
  • Deformitas (kerusakan) sendi secara kronis
  • Cidera pada ginjal
  • Hiperuemia (kadar asam urat dalam darah lebih dari 7,5 mg/dL)
Pengobatan

          Ketika terjadi serangan arthritis akut, penderita diberikan terapi untuk mengurangi peradangannya.

Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan obat analgesik/NSAID, kortikosteroid, tirah baring, atau dengan pemberian kolkisin.
Setelah serangan akut berakhir, terapi ditujukan untuk menurunkan kadar asam urat dalam tubuh.
Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan kolkisin atau obat yang memacu pembuangan asam urat lewat ginjal (misal probenesid) atau obat yang menghambat pembentukan asam urat (misal allopurinol).



Pencegahan
          Penyakitnya sendiri tidak bisa dicegah, tetapi beberapa faktor pencetusnya bisa dihindari (misalnya cedera, alkohol, makanan kaya protein).          Untuk mencegah kekambuhan, dianjurkan untuk minum banyak air, menghindari minuman beralkohol dan mengurangi makanan yang kaya akan protein. Banyak penderita yang memiliki kelebihan berat badan, jika berat badan mereka dikurangi, maka kadar asam urat dalam darah seringkali kembali ke normal atau mendekati normal.
          Beberapa penderita (terutama yang mengalami serangan berulang yang hebat) mulai menjalani pengobatan jangka panjang pada saat gejala telah menghilang dan pengobatan dilanjutkan sampai di antara serangan.
          Kolkisin dosis rendah diminum setiap hari dan bisa mencegah serangan atau paling tidak mengurangi frekuensi serangan. Mengkonsumsi obat anti peradangan non-steroid secara rutin juga bisa mencegah terjadinya serangan. Kadang kolkisin dan obat anti peradangan non-steroid diberikan dalam waktu yang bersamaan. Tetapi kombinasi kedua obat ini tidak mencegah maupun memperbaiki kerusakan sendi karena pengendapan kristal dan memiliki risiko bagi penderita yang memiliki penyakit ginjal atau hati.


Kesimpulan:
Sel dapat menjalankan aktivitas hidup diantaranya metabolism hidup. Yang mana metabolism tersebut dibagi yaitu anabolisme dan katabolisme. Patofisiologi katabolisme purin yang menyebabkan penyakit gout. Didalam sel juga terdapat biomolekul yang diantaranya DNA dan RNA. Yang mempunyai fungsi masing-masing diantaranya untuk sintesa protein.


DAFTAR PUSTAKA
Harper, Rodwell, Mayes, 1977, Review of Physiological Chemistry
Colby, 1992, Ringkasan Biokimia Harper, Alih Bahasa: Adji Dharma, Jakarta, EGC
Wirahadikusumah, 1985, Metabolisme Energi, Karbohidrat dan Lipid, Bandung, ITB
Harjasasmita, 1996, Ikhtisar Biokimia Dasar B, Jakarta, FKUI
Toha, 2001, Biokimia, Metabolisme Biomolekul, Bandung, Alfabeta
Poedjiadi, Supriyanti, 2007, Dasar-Dasar Biokimia, Bandung, UI Press

Minggu, 08 Mei 2011

Trigger 6 : Trauma Capitis

          Pada sebuah pertandingan tinju professional, sebuah pukulan upper cut yang dilayangkan oleh petinju Indonesia kepada lawan tandingnya menyebabkan lawannya jatuh. Sampai hitungan ke 10 dari wasit, petinju yang jatuh masih belum bangun. Dikter pertandingan segera memeriksa untuk melihat apakah petinju tersebut mengalami cedera otak.
          Pemeriksaan di lapangan menunjukkan respon pupil dekstra sedikit, pupil sinistra normal, kesedaran menurun. Dokter memperkirakan terjadi cedera kepala derajat 2 dan ditakutkan terjadi progresivitas pendarahan. Untuk itu segera pasien disiapkan untuk dilarikan ke rumah sakit. Pada hasil rontgen tengkorak yang dilakukan di rumah sakit tidak ditemukan tanda fraktur basis cranii.

STEP 1 :

  1. Respon pupil : gerakan reflek pupil pada mata mengatur cahaya.
  2. Pupil dekstra : pupil bagian mata kanan.
  3. Pupil sinistra : pupil bagian mata kiri.
  4. Progresivitas pendarahan : akibat lanjut dari pendarahan.
  5. Pupil : bagian mata yang mengatur keluar masuknya cahaya.
  6. Upper cut : pukulan dari bawah ke atas.
  7. Fraktur bassis cranii : patahan pada bagian dasar tengkorak.
  8. Trauma capitis : cidera pada caput.
STEP 2 :

  1. Bagaimana cara melihat seseorang yang mengalami cidera otak?
  2. Bagaimana pertolongan pertama pada seseorang yang mengalami cidera otak?
  3. Apa saja tanda-tanda seseorang mengalami cidera otak?
  4. Mengapa dokter memperkirakan cidera yang terjadi itu cidera kepala derajat 2?
  5. Apa akibat jika terjadi progresivitas pendarahan?
  6. Apa saja anatomi dari basis cranii?
  7. Bagian-bagian apa saja pada basis cranii?
STEP 3 :

  1. - Dengan melihat tingkat kesadaran.
    - Melihat respon pupil pada mata.
  2. Dibaringkan dengan posisi datar atau terlentang tanpa menggunakan bantal.
  3. - Mengalami muntah-muntah.
    - Kejang dan gemetaran.
    - Tidak bisa mengendalikan kaki untuk bergerak (lumpuh).
  4. - Pengeluaran urine yang tidak terkontrol.
    - Respon pupil dekstra sedikit.
    - Respon pupil sinistra normal.
    - Tingkat kesadaran menurun.
  5. Terjadi pembekuan darah pada otak.
  6. L.O
  7. L.O
STEP 4 :


STEP 5 :
  1. Definisi trauma capitis.
  2. Anatomi tulang tengkorak.
  3. Anatomi otot penggerak kepala dan leher.
  4. Histology ossa cranium.
  5. Fisiologi reflek dari otak ke anggota gerak tubuh.
  6. Pertolongan pertama pada trauma capitis.
  7. Tanda, akibat, penyebab dari trauma capitis.
  8. Pemeriksaan fisik dan penunjang pada trauma capitis.
STEP 6 :

Trauma capitis adalah trauma yang mengenal calvaria dan atau basis crania serta organ-organ di dalamnya dimana kerusakan tersebut bersifat non congenital yang disebabkan oleh gaya mekanik keluar sehingga timbul gangguan fisik, kognitif serta berhubungan dengan penurunan tingkat kesadaran.

Trauma capitis adalah trauma mekanik terhadap kepala baik secara langsung maupun tidak langsung yang menyebabkan gangguan fungsi neurologis yaitu gangguan fisik, kognitif, fungsi psikososial baik temporer maupun permanen.

Anatomi tulang tengkorak


Cranium
- Neurocranium
   ·         Os frontal.
   ·         Os  parietale.
   ·         Os temporale.
   ·         Os sphenoidale.
   ·          Os etmoidalis.

- Splanchnocranium
·         Maxilla.
·         Mandibula.
·         Os palatinum.
·         Os zygomaticum.
·         Os lacrimale.
·         Os nasale.
·         Os vomer.

- Basis cranii
·         Os frontale.
·         Os temporalis.
·         Os occipitalis.
·         Os sphenoidalis.
·         Os ethmoidalis.
·         Os palatinum.
·         Os vomer.
·         Os zygomaticum.
·         Os maxilla.
·         Os mandibula.

Otot Leher

http://media-3.web.britannica.com/


http://drkokogyi.files.wordpress.com/


  • M. sterno cleido mastoideus : memutar kepala ke arah kontralateral.
  • M. stylohyoideus : untuk menarik osteoideum kearah dorso cranial.
  • M. sternohyoideus : menarik osteoideus kearah kaudal.
  • M. Sternothyroideus : untuk menekan laring.
  • M. Thyrohyoideus : aproksimasi osnyoideum dan larynx.
  • M. Omohyoideus : untuk menegangkan fascia cervicalis.
  • M. Sclaneus anterior
    - Columna vertebralis : flexi bagian cervical columna vertebralis hearon lateral.
    - Thorax : mengangkat costae 1 sehingga menarik ke atas (otot inspirasi).
  • M. Sclaneus posterior : untuk mengangkat iga ke-2 dan ke-3 sehingga thorax terangkat keatas pada saat inspirasi.
  • M. Sclaneus medius : untuk mengangkat iga 1.
  • M. Rectus capitis anterioar : flexi kepala ke arah lateroventral, rotasi kepala kearah ipsi lateral.
  • M. Longus capitis : flexi kepala kearah ventral,rotasi kepala kearah ipsi lateral.
  • M. Longus colli : flexi kepala kearah ventral rotasi kepala ke arah ipsi lateral.
Osifikasi

Zona istirahat
Zona proliferasi (zona perbaikan)
Zona hipertrofi 

  1. Osteoblas
  2. Osteosit
  3. Trabekula Tulang
  4. Rongga Sumsum
  5. Periosteum
  6. Osteoblas
  7. Tulang
  8. Osteoklas
  9. Pembuluh Darah dengan Sel Darah
STEP 7 :
Fisiologi reflek dari otak ke anggota gerak tubuh

Pada gerakan reflek impuls melalui jalan pintas dimulai dari reseptor penerima rangsang kemudian diteruskan oleh saraf sensorik kepusat saraf, dterima oleh saraf penghubung (asosiasi) tanpa diolah didalam otak langsung dikirim tanggapan kesaraf motorik untuk disampaikan ke efektor yaitu otot/kelenjar jalan pintas ini disebut lengkung reflek, lengkung reflek terdiri dari alat indra serat saraf eferen dan efektor, pada mamalia hubungan sinap antara neuron somatik aferen dengan eferen biasanya terdapat diotak/medula spinallis serat neuron aferen masuk ke susunan saraf pusat melalui radik dorsalis medula spinalis dan badan selnya terdapat di ganglion homolog melalui nervus cranial yang sesuai.

Pertolongan pertama

Sampai bantuan medis datang, menahan orang tersebut tetap berbaring dan usahakan tidak memindahkan posisi orang tersebut. Menghentikan pendarahan dengan kasa steul. Perhatikan perubahan pernapasan yang terjadi, jika dibutuhkan lakukan CPR.

  • Airway : jalan napas apakah dengan sumbatan atau tidak.
  • Breathing : apakah ada sesak atau tiadak. Frekuensi pernapasan dalam atau dangkal. Irama pernapasan lambat atau tidak.
  • Circulation : frekuensi nadi regular atau tidak. Warna kulit pucat, siarosis, kemerahan. Irama jantung teratur atau tidak.
  • Dissability : pencegahan dan kecacatan.

Tanda-tanda
  • Muntah-muntah.
  • Kejang-kejang.
  • Penurunan kesadaran.
  • Abnormalitas pupil.
  • Pembengkakan pada daerah fraktur.
  • Kelemahan pada suatu sisi tubuh secara tiba-tiba.
  • Pendarahan pada hidung dan telinga.


Akibat yang terjadi
  • Edema serebral.
  • Herniasi.
  • Komplikasi lain, seperti infeksi sistemik => infeksi luka, meningitis dll.
  • Abnormalitas gerakan mata.

Penyebab
  • Kecelakaan lalu lintas dan jatuh, seiring dengan kemajuan teknologi, frekuensi cidera kepala cenderung meningkat.
  • Cidera kepala melibatkan kelompok usia produktif yaitu antara 15-44 tahun dengan usia rata-rata 30 tahun yang lebih didominasi oleh laki-laki.
  • Kekerasan, ex: pukulan keras terhadap kepala.
  • Olah raga, ex: boxing.
Pemeriksaan fisik
  • Reflek pupil.
  • Gerakan bola mata.
  • Penilaian GCS.
  • Nervi cranialis.
  • Fungsi motorik.
Pemeriksaan diagnostik (penunjang)
  • Rontgen tengkorak untuk mengetahui perubahan struktur tengkorak, adanya sol homoragik, pergeseran jaringan otot.
  • Angrograul serebral untuk mengetahui hematoma serebral, kelainan sirkulasi serebral.
  • EEG : untuk mengetahui pergeseran garis tengah otak.
  • Laboratorium : pemeriksaan darah, HB, leukosit.
Kesimpulan

          Trauma capitis merupakan cidera kepala yang dapat menimbulkan gangguan terhadap organ-organ dan jaringan didalamnya. Pada trauma ini dapat dilakukan pertolongan pertama yaitu ABCD (airway, breathing, circulation, dissability), dan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang.




DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddarth, 2002. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC.
Guyton dan Hall. 1996. Fisiologi Kedokteran Edisi 9. Jakarta : EGC.
Marlyn E Doengoes. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC.
Brunner & Suddarth, 2002,Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, alih bahasa : Waluyo