Laman

. . . . . . . . . . . . . . . . Image Hosted by ImageShack.us . . . . . . . . . . . . . . . .

Minggu, 08 Mei 2011

Trigger 6 : Trauma Capitis

          Pada sebuah pertandingan tinju professional, sebuah pukulan upper cut yang dilayangkan oleh petinju Indonesia kepada lawan tandingnya menyebabkan lawannya jatuh. Sampai hitungan ke 10 dari wasit, petinju yang jatuh masih belum bangun. Dikter pertandingan segera memeriksa untuk melihat apakah petinju tersebut mengalami cedera otak.
          Pemeriksaan di lapangan menunjukkan respon pupil dekstra sedikit, pupil sinistra normal, kesedaran menurun. Dokter memperkirakan terjadi cedera kepala derajat 2 dan ditakutkan terjadi progresivitas pendarahan. Untuk itu segera pasien disiapkan untuk dilarikan ke rumah sakit. Pada hasil rontgen tengkorak yang dilakukan di rumah sakit tidak ditemukan tanda fraktur basis cranii.

STEP 1 :

  1. Respon pupil : gerakan reflek pupil pada mata mengatur cahaya.
  2. Pupil dekstra : pupil bagian mata kanan.
  3. Pupil sinistra : pupil bagian mata kiri.
  4. Progresivitas pendarahan : akibat lanjut dari pendarahan.
  5. Pupil : bagian mata yang mengatur keluar masuknya cahaya.
  6. Upper cut : pukulan dari bawah ke atas.
  7. Fraktur bassis cranii : patahan pada bagian dasar tengkorak.
  8. Trauma capitis : cidera pada caput.
STEP 2 :

  1. Bagaimana cara melihat seseorang yang mengalami cidera otak?
  2. Bagaimana pertolongan pertama pada seseorang yang mengalami cidera otak?
  3. Apa saja tanda-tanda seseorang mengalami cidera otak?
  4. Mengapa dokter memperkirakan cidera yang terjadi itu cidera kepala derajat 2?
  5. Apa akibat jika terjadi progresivitas pendarahan?
  6. Apa saja anatomi dari basis cranii?
  7. Bagian-bagian apa saja pada basis cranii?
STEP 3 :

  1. - Dengan melihat tingkat kesadaran.
    - Melihat respon pupil pada mata.
  2. Dibaringkan dengan posisi datar atau terlentang tanpa menggunakan bantal.
  3. - Mengalami muntah-muntah.
    - Kejang dan gemetaran.
    - Tidak bisa mengendalikan kaki untuk bergerak (lumpuh).
  4. - Pengeluaran urine yang tidak terkontrol.
    - Respon pupil dekstra sedikit.
    - Respon pupil sinistra normal.
    - Tingkat kesadaran menurun.
  5. Terjadi pembekuan darah pada otak.
  6. L.O
  7. L.O
STEP 4 :


STEP 5 :
  1. Definisi trauma capitis.
  2. Anatomi tulang tengkorak.
  3. Anatomi otot penggerak kepala dan leher.
  4. Histology ossa cranium.
  5. Fisiologi reflek dari otak ke anggota gerak tubuh.
  6. Pertolongan pertama pada trauma capitis.
  7. Tanda, akibat, penyebab dari trauma capitis.
  8. Pemeriksaan fisik dan penunjang pada trauma capitis.
STEP 6 :

Trauma capitis adalah trauma yang mengenal calvaria dan atau basis crania serta organ-organ di dalamnya dimana kerusakan tersebut bersifat non congenital yang disebabkan oleh gaya mekanik keluar sehingga timbul gangguan fisik, kognitif serta berhubungan dengan penurunan tingkat kesadaran.

Trauma capitis adalah trauma mekanik terhadap kepala baik secara langsung maupun tidak langsung yang menyebabkan gangguan fungsi neurologis yaitu gangguan fisik, kognitif, fungsi psikososial baik temporer maupun permanen.

Anatomi tulang tengkorak


Cranium
- Neurocranium
   ·         Os frontal.
   ·         Os  parietale.
   ·         Os temporale.
   ·         Os sphenoidale.
   ·          Os etmoidalis.

- Splanchnocranium
·         Maxilla.
·         Mandibula.
·         Os palatinum.
·         Os zygomaticum.
·         Os lacrimale.
·         Os nasale.
·         Os vomer.

- Basis cranii
·         Os frontale.
·         Os temporalis.
·         Os occipitalis.
·         Os sphenoidalis.
·         Os ethmoidalis.
·         Os palatinum.
·         Os vomer.
·         Os zygomaticum.
·         Os maxilla.
·         Os mandibula.

Otot Leher

http://media-3.web.britannica.com/


http://drkokogyi.files.wordpress.com/


  • M. sterno cleido mastoideus : memutar kepala ke arah kontralateral.
  • M. stylohyoideus : untuk menarik osteoideum kearah dorso cranial.
  • M. sternohyoideus : menarik osteoideus kearah kaudal.
  • M. Sternothyroideus : untuk menekan laring.
  • M. Thyrohyoideus : aproksimasi osnyoideum dan larynx.
  • M. Omohyoideus : untuk menegangkan fascia cervicalis.
  • M. Sclaneus anterior
    - Columna vertebralis : flexi bagian cervical columna vertebralis hearon lateral.
    - Thorax : mengangkat costae 1 sehingga menarik ke atas (otot inspirasi).
  • M. Sclaneus posterior : untuk mengangkat iga ke-2 dan ke-3 sehingga thorax terangkat keatas pada saat inspirasi.
  • M. Sclaneus medius : untuk mengangkat iga 1.
  • M. Rectus capitis anterioar : flexi kepala ke arah lateroventral, rotasi kepala kearah ipsi lateral.
  • M. Longus capitis : flexi kepala kearah ventral,rotasi kepala kearah ipsi lateral.
  • M. Longus colli : flexi kepala kearah ventral rotasi kepala ke arah ipsi lateral.
Osifikasi

Zona istirahat
Zona proliferasi (zona perbaikan)
Zona hipertrofi 

  1. Osteoblas
  2. Osteosit
  3. Trabekula Tulang
  4. Rongga Sumsum
  5. Periosteum
  6. Osteoblas
  7. Tulang
  8. Osteoklas
  9. Pembuluh Darah dengan Sel Darah
STEP 7 :
Fisiologi reflek dari otak ke anggota gerak tubuh

Pada gerakan reflek impuls melalui jalan pintas dimulai dari reseptor penerima rangsang kemudian diteruskan oleh saraf sensorik kepusat saraf, dterima oleh saraf penghubung (asosiasi) tanpa diolah didalam otak langsung dikirim tanggapan kesaraf motorik untuk disampaikan ke efektor yaitu otot/kelenjar jalan pintas ini disebut lengkung reflek, lengkung reflek terdiri dari alat indra serat saraf eferen dan efektor, pada mamalia hubungan sinap antara neuron somatik aferen dengan eferen biasanya terdapat diotak/medula spinallis serat neuron aferen masuk ke susunan saraf pusat melalui radik dorsalis medula spinalis dan badan selnya terdapat di ganglion homolog melalui nervus cranial yang sesuai.

Pertolongan pertama

Sampai bantuan medis datang, menahan orang tersebut tetap berbaring dan usahakan tidak memindahkan posisi orang tersebut. Menghentikan pendarahan dengan kasa steul. Perhatikan perubahan pernapasan yang terjadi, jika dibutuhkan lakukan CPR.

  • Airway : jalan napas apakah dengan sumbatan atau tidak.
  • Breathing : apakah ada sesak atau tiadak. Frekuensi pernapasan dalam atau dangkal. Irama pernapasan lambat atau tidak.
  • Circulation : frekuensi nadi regular atau tidak. Warna kulit pucat, siarosis, kemerahan. Irama jantung teratur atau tidak.
  • Dissability : pencegahan dan kecacatan.

Tanda-tanda
  • Muntah-muntah.
  • Kejang-kejang.
  • Penurunan kesadaran.
  • Abnormalitas pupil.
  • Pembengkakan pada daerah fraktur.
  • Kelemahan pada suatu sisi tubuh secara tiba-tiba.
  • Pendarahan pada hidung dan telinga.


Akibat yang terjadi
  • Edema serebral.
  • Herniasi.
  • Komplikasi lain, seperti infeksi sistemik => infeksi luka, meningitis dll.
  • Abnormalitas gerakan mata.

Penyebab
  • Kecelakaan lalu lintas dan jatuh, seiring dengan kemajuan teknologi, frekuensi cidera kepala cenderung meningkat.
  • Cidera kepala melibatkan kelompok usia produktif yaitu antara 15-44 tahun dengan usia rata-rata 30 tahun yang lebih didominasi oleh laki-laki.
  • Kekerasan, ex: pukulan keras terhadap kepala.
  • Olah raga, ex: boxing.
Pemeriksaan fisik
  • Reflek pupil.
  • Gerakan bola mata.
  • Penilaian GCS.
  • Nervi cranialis.
  • Fungsi motorik.
Pemeriksaan diagnostik (penunjang)
  • Rontgen tengkorak untuk mengetahui perubahan struktur tengkorak, adanya sol homoragik, pergeseran jaringan otot.
  • Angrograul serebral untuk mengetahui hematoma serebral, kelainan sirkulasi serebral.
  • EEG : untuk mengetahui pergeseran garis tengah otak.
  • Laboratorium : pemeriksaan darah, HB, leukosit.
Kesimpulan

          Trauma capitis merupakan cidera kepala yang dapat menimbulkan gangguan terhadap organ-organ dan jaringan didalamnya. Pada trauma ini dapat dilakukan pertolongan pertama yaitu ABCD (airway, breathing, circulation, dissability), dan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang.




DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddarth, 2002. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC.
Guyton dan Hall. 1996. Fisiologi Kedokteran Edisi 9. Jakarta : EGC.
Marlyn E Doengoes. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC.
Brunner & Suddarth, 2002,Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, alih bahasa : Waluyo

    1 komentar:

    1. hahaa seneng bisa bantu, tapi nanti trigger semester 3 ga ada postingannya hahaa :)

      BalasHapus